Sigli – Malam ketujuh Ramadan, suasana tarawih di Kemukiman Kalee, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie, berlangsung khusyuk. Seusai salat, jamaah tetap bertahan di saf masing-masing untuk mendengarkan tausiyah yang disampaikan Tgk Khairul Rizki, siswa Dayah Ulee Titi, Selasa (24/2/2026).
Dalam ceramahnya, Khairul menekankan pentingnya memanfaatkan umur dan kesehatan sebagai modal utama beribadah kepada Allah SWT. Menurut dia, manusia kerap memaknai modal sebatas harta benda, padahal waktu hidup dan kondisi fisik yang sehat merupakan karunia terbesar yang tidak ternilai.
“Allah telah memberikan kita umur dan kesehatan. Itulah modal utama. Maka gunakanlah untuk beribadah kepada-Nya, apalagi di bulan suci Ramadan,” ujarnya di hadapan jamaah.
Putra kelahiran Kecamatan Batee itu menyebut Ramadan sebagai momentum evaluasi diri. Bulan puasa, kata dia, bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan ruang pembuktian sejauh mana seseorang memanfaatkan waktu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Memasuki hari ketujuh Ramadan, ia mengajak jamaah memperbanyak amalan sunnah, bersedekah, dan membaca Al-Qur’an. Ramadan, menurutnya, merupakan bulan diturunkannya kitab suci, sehingga membaca dan mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an memiliki nilai keutamaan tersendiri.
“Kesempatan ini tidak selalu datang. Umur kita tidak ada yang tahu sampai kapan. Maka jangan disia-siakan,” kata Khairul.
Selain menekankan aspek ibadah personal, ia juga menyoroti pentingnya pendidikan agama bagi generasi muda. Para orang tua diminta tidak mengabaikan pembinaan akidah dan akhlak anak. Jika tidak mampu mendidik secara maksimal di rumah, memasukkan anak ke lembaga pendidikan dayah di Aceh dinilai sebagai pilihan yang tepat.
Menurut dia, dayah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi yang memahami ajaran Islam sekaligus berakhlak baik. Pendidikan agama, ujarnya, menjadi fondasi penting agar anak tidak hanya mengejar keberhasilan dunia, tetapi juga keselamatan akhirat.
Di akhir tausiyah, Khairul mengingatkan jamaah untuk memperbanyak rasa syukur karena masih diberi kesempatan bertemu Ramadan dalam keadaan sehat. Ia menilai tidak semua orang memperoleh nikmat tersebut.
Ceramah ditutup dengan doa bersama. Jamaah kemudian meninggalkan masjid dengan tertib, membawa pulang pesan sederhana: selama umur dan kesehatan masih diberikan, keduanya hendaknya dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah.
Editor : Amiruddin MK









